Bagi Denny Permana, ada masa ketika kesempatan beristirahat adalah sebuah kemewahan tersendiri. Hal itu terjadi di tahun 2012, ketika ia ditunjuk menjadi Senior Manager IT Architecture Garuda Indonesia setelah 15 tahun sebelumnya mengabdi di Telkom Indonesia.

Kala itu, Denny harus mengawal transisi core system PSS (Passenger Service System) maskapai kebanggaan bangsa tersebut. Tenggat waktu yang hanya empat bulan, ditambah pengalaman minim di industri penerbangan, membuat Denny berada dalam tekanan besar. “Saya tidur paling cuma empat sampai lima jam sehari,” kenang Denny sambil tersenyum lepas.

Namun milestone penting itu berhasil dilalui, dan transformasi teknologi informasi di Garuda Indonesia terus berlanjut. Kini, fundamental sistem TI Garuda Indonesia terbilang sudah mapan, bahkan sejajar dengan perusahaan penerbangan kelas dunia lainnya.

Meninggalkan Kompleksitas

Sejak tahun lalu, Denny pun mendapat tanggung jawab lebih besar sebagai VP IT Strategy, Garuda Indonesia. “Tugas kami memastikan ketersediaan teknologi informasi untuk kepentingan bisnis,” ungkap Denny menceritakan tanggung jawabnya. Selain itu, Denny dan timnya juga menangani kontrol investasi TI di Garuda Indonesia. “Kami akan mememonitor apakah investasi TI itu memberikan benefit atau tidak,” tambah pria lulusan STT Telkom (sekarang Telkom University) ini.

Sistem kontrol ini dimaksudkan agar setiap investasi TI yang dilakukan di organisasi Garuda Indonesia dapat memberikan dampak terhadap bisnis. “Bisa berupa revenue atau perbaikan business process,” tambah Denny menjelaskan.

Untuk memastikan inisiatif itu berjalan lancar, Denny bahkan memiliki tim bernama IT Change Management yang bertugas memastikan teknologi informasi diadopsi dengan maksimal oleh business unit. “Jadi sekarang kami mengontrol semua aspek, mulai dari proses implementasinya, dampaknya terhadap bisnis perusahaan, sampai adopsi dan utilisasinya,” tukasnya.

Menyadari eratnya interaksi antara IT dengan business user di Garuda Indonesia, Denny pun menggunakan filosofi yang ia namakan Bring Complexity to Simplicity. “Saya ingin IT itu menimbulkan kesan yang mudah bagi setiap orang,” ungkap Denny.

Filosofi itu juga berefek pada perubahan sisi back-end yang sebelumnya kompleks. “Data center kita dulu seperti pasar festival, karena semua platform, OS, dan database berbeda ada di situ,” kata Denny sambil tertawa lebar. Kompleksitas itu menyebabkan TI susah memenuhi keinginan bisnis secara cepat.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa Garuda Indonesia kemudian agresif menggunakan cloud computing. “Garuda Indonesia bukan perusahaan IT, jadi tidak usah mengurus banyak infrastruktur sendiri,” Denny menjelaskan dasar pemikirannya.

Yang perlu dikelola sendiri hanyalah infrastruktur yang terkait dengan user, sedangkan sisanya bisa diarahkan ke cloud. Kini, hanya 30-40% infrastruktur Garuda Indonesia yang masih on-premise, dan jumlah itu akan terus berkurang. “Jika ada aplikasi yang best practice-nya sudah ada di cloud, kita akan kejar ke sana,” tambah Denny.

denny permana vp it strategy garuda indonesia 2

“Garuda Indonesia bukan perusahaan IT, jadi tidak usah mengurus banyak infrastruktur sendiri,” Denny menjelaskan dasar pemikirannya untuk menggunakan cloud computing.

Setelah menerapkan strategi going to cloud, Denny merasakan banyak manfaat. Selain infrastruktur TI Garuda Indonesia kini sangat lincah, dari sisi investasi pun terasa menguntungkan. “Contohnya untuk IaaS (Infrastructure-as-a-Service), saat ini kita bisa saving cost 10 – 20%,” tambah Denny yang menggunakan Microsoft Azure tersebut. \

Yang tak kalah penting, kini tim IT Strategy tidak perlu direpotkan dengan kegiatan operasional rutin dan bisa lebih berkonsentrasi membantu bisnis. “Kini banyak inisiatif bisnis datang dari tim IT,” ucapnya.

Salah satunya adalah membuat aplikasi Executive Mobile Dashboard. Melalui aplikasi mobile ini, BOD bisa mengecek kondisi Garuda Indonesia secara real-time, mulai dari data penjualan, pesawat yang delay, sampai rute yang untung atau rugi. Sedangkan di sisi pelanggan, Garuda Indonesia saat ini sudah memiliki aplikasi mobile untuk pemesanan tiket dan check-in.

Namun Garuda Indonesia masih memiliki mimpi besar untuk membuat aplikasi mobile yang bisa mempersonalisasi perjalanan konsumen. “Kami memiliki cita-cita membuat one-stop service untuk traveler,” tambah Denny.

Melalui aplikasi ini, konsumen Garuda bisa menemukan semua aspek yang dibutuhkan mulai dari pre-journey (seperti merencanakan perjalanan), in-journey (contohnya makanan favorit), sampai post-journey (informasi tempat wisata). Mimpinya adalah informasi itu terangkum sesuai personalisasi pelanggan sehingga menciptakan keterikatan emosional pelanggan terhadap Garuda Indonesia.

Sejajar di Kelas Dunia

Denny mengakui, beberapa maskapai besar lain sudah melakukan tahapan personalisasi ini. Bahkan beberapa maskapai sudah melengkapi kru di pesawat dengan tablet crew berisi informasi penting pelanggan, seperti nama atau pilihan makanan penumpang. “Kita masih belum sampai situ,” Denny mengakui.

Namun di luar itu, Garuda Indonesia sebenarnya sudah sekelas dengan maskapai penerbangan dunia. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan Garuda menjadi anggota Sky Team. Padahal, aliansi yang beranggotakan 20 maskapai ini memiliki persyaratan ketat di berbagai hal, termasuk sistem TI. “Contohnya memiliki sistem TI yang SOA-based, mengantongi ISO 27001, serta compliance terhadap semua aturan,” Denny menggambarkan ketatnya persyaratan masuk ke Sky Team.

Sama seperti saat migrasi core system, waktu yang tersedia untuk memenuhi persyaratan itu sangat singkat, yaitu satu tahun. Denny dan tim pun terus bekerja keras sambil menjalin komunikasi dengan tim IT dari anggota Sky Team lain seperti Delta Airlines, KLM, dan Korean Airlines. Akhirnya target itu bisa dipenuhi, dan Garuda Indonesia resmi menjadi anggota Sky Team sejak tahun 2014.

Saat ini, target utama tim TI Garuda Indonesia adalah meningkatkan SLA di semua aspek, salah satunya dengan membangun sistem backup untuk core system. “Contohnya di bandara, kami tidak ingin sistem mati sehingga layanan Garuda Indonesia juga terhenti,” ujar Denny.

Banyak hal yang masih harus dilakukan, namun secara fundamental, sistem TI di Garuda Indonesia relatif sudah kokoh. “Jelang peak-season kemarin, kami melakukan simulasi disaster di area bandara dan data center, dan semua berjalan sesuai rencana,” imbuhnya.

Tim Garuda Indonesia kini juga memiliki IT Information Dashboard yang akan melaporkan setiap gejala (symptom) yang berpotensi menyebabkan kegagalan. “Jadi kami tidak terkaget-kaget lagi jika ada masalah,” lanjut Denny.

Hal inilah yang menyebabkan waktu istirahat Denny kini kembali normal. Ia dan timnya jarang lembur, dan akhir minggu pun bisa Denny manfaatkan sepenuhnya bersama istri dan lima buah hatinya. “Awalnya memang sulit, tapi Alhamdulillah kini semua sudah lancar,” ujar Denny dengan nada lega.

Source : https://infokomputer.grid.id/2016/04/profil/denny-permana-garuda-indonesia-komputasi-awan/

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?