Berkiprah di luar negeri bukanlah perkara mudah, sekalipun itu bagi orang yang menggeluti dunia ICT. Tantangan dan rintangan yang dihadapi sama sekali berbeda dengan dunia kerja di Indonesia. Namun Eko Kurniawan membuktikan bahwa dia mampu berbuat banyak bahkan posisinya bisa membawahi ahli-ahli IT lain dari banyak negara.

Lulusan STT Telkom angkatan 14 tahun 1995 ini menyebutkan, menjelang tahun ke-10 bekerja di EE Ltd, dia berhasil memimpin program integrasi dan pengujian yang sangat kompleks, mencakup operasi T-Mobile di lima negara di Eropa. Selain itu, dia pun pernah memimpin proyek kompleks yang sangat high profile berhasil mengintegrasikan dan meroll out jaringan seluler 4G dan IMS (VoWIFI dan VoLTE) pertama di United Kingdom.

“Saya mulai berkarir di EE Ltd, operator seluler terbesar di UK, yang dimiliki oleh British Telecom sejak Desember tahun 2007. Saya berkantor di Borehamwood, United Kingdom,” ungkapnya saat diwawancara melalui surel, belum lama ini.

Eko bercerita, awal karirnya dimulai ketika sekitar pertengahan tahun 2007 melamar langsung melalui website perusahaan (saat itu masih bernama T-Mobile). Tidak lama kemudian mendapatkan undangan interview melalui telepon, berlanjut dengan undangan interview face-to-face langsung di UK.

“Tiket, akomodasi semuanya ditanggung. Setelah melalui proses interview yang cukup berat dengan hiring manager dan HR, beberapa hari kemudian saya mendapatkan penawaran kerja. Visa kerja dan semua biaya pindah sekeluarga ke UK ditanggung oleh perusahaan tempat saya bekerja,” katanya sambil mengenang.

Lebih lanjut dia menceritakan, interview tersebut lebih banyak menyasar soft skill seperti communication skill, influencing skill, presentation skill, project management, attitude, dan lain-lain. Atas kemampuan yang dimilikinya saat itu, HRD tidak berpikir panjang untuk menerima Eko sebagai salah satu bagian dari perusahaan Telekomunikasi terkemuka itu.

Perusahaannya, sambung dia, waktu itu langsung mengurus Work Permit untuk bisa bekerja di Inggris. Proses work permit memakan waktu sekitar sebulan, setelah itu baru dia bersama keluarganya berangkat ke Inggris untuk memulai bekerja. Total waktu yang dibutuhkan sejak apply di website sampai berangkat ke Inggris adalah sekitar empat bulan.

“Berdasarkan pengalaman saya, selain prosesnya, yang menjadi faktor utama  untuk bisa bekerja di luar negeri adalah Communication Skills, Technical Skill yang niche, sehingga jarang orang yang memilikinya. Pengalaman kerja di perusahaan multinasional juga jadi pertimbangan lain, terutama dengan pengalaman mengerjakan proyek di luar negeri,” bebernya.

Menurut ahli IP-Multimedia SubSystem dan LTE tersebut, aktivitas selama kuliah di STT Telkom menjadi pelajaran berharga yang memberi pengaruh cukup banyak pada perjalanan karirnya. Beberapa mata kuliah yang menurutnya sangat aplikatif adalah Jaringan Telekomunikasi, Komunikasi Data, Jaringan Komunikasi Bergerak, ISDN/IN. Kebetulan dia mengambil peminatan Jaringan Telekomunikasi ketika kuliah di STT Telkom.

”Selain mata kuliah formal, yang saya rasakan sangat membantu di dunia kerja adalah aktifitas saya sebagai Asisten Lab, ketika kuliah saya sempat menjadi asisten lab C&C (selama dua periode) dan lab IMS. Di sini saya banyak belajar tentang pengetahuan praktis (terutama Linux dan Jaringan Komputer) yang membuat saya mudah untuk memasuki dunia kerja,” tambahnya.

Eko pun berpesan kepada mahasiswa Telkom University agar bisa memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas laboratorium di kampus untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang mudah dijual ke dunia kerja. Aktif di study group dan organisasi kampus yang mengadakan kegiatan ”ngoprek” teknologi-teknologi baru juga disarankan untuk diikuti mahasiswa.

”Saya dahulu aktif di Workshop Himatel dan AII (Academic Information Infrastructure) yang banyak memberi saya pengetahuan praktis dan organisasi yang memberi bekal berharga di dunia kerja. Hal penting lainnya adalah membangun networking seluas mungkin, baik dengan alumni dan senior yang sudah bekerja/berwirausaha, rekan-rekan sepeminatan/sebidang di kampus lain, juga dengan siapapun,” terang dia.

Secara umum, menurutnya, alumni IT Telkom memiliki kompetensi yang sangat baik terutama di bidang telekomunikasi.   Dia mengamati, di dalam negeri banyak sekali yang masuk operator seluler besar dan vendor-vendor telekomunikasi besar. Di luar negeri juga kiprahnya sudah eksis di lima benua, terutama di Middle East. Sebagai contoh di Qtel Qatar, mayoritas expat dari Indonesia adalah lulusan STTTelkom (dari angkatan 14 saja ada 3 orang), dan rata-rata menduduki posisi yang cukup penting.

”Saya berharap Telkom University bisa mewujudkan cita-citanya menjadi center of excellence di bidang ICT, saya pikir sudah berjalan ke arah yang tepat.  Harapan untuk para alumni yang memasuki dunia kerja: Set your goal high and don’t stop until you get there,” pungkasnya.

Saat ini, Eko juga bertindak sebagai Koordinator FAST Overseas, komunitas alumni Telkom University di luar negeri, yang sudah mencapai lebih dari 400 orang terdata di lebih dari 30 negara.

#FAST4Indonesia
#FASTOverseas
#AlumniStories

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?