Di era pesatnya perkembangan teknologi seperti sekarang ini, menjadi sedikit lebih beda dari orang lain itu penting. Orang akan cepat mengetahui siapa kita ketika kita bisa menunjukkan perbedaan dari orang lain. Anggota DPR RI, Elnino M. Husein Mohi mampu membuktikan pernyataan tersebut.

Jauh sebelum pria kelahiran Gorontalo 42 tahun silam itu ‘manggung’ di parlemen, ia adalah seorang kuli tinta di tanah kelahirannya. Dia pernah menjadi Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo) dan juga Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999–2001).

Politisi Partai Gerindra itu mengaku, sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi anggota legislatif. Cita-citanya ketika mulai berkecimpung di dunia politik adalah ingin menjadi duta besar bagi Indonesia. Tetapi nasib berkata lain, menjelang Pemilu Legislatif tahun 2014 dari Gerindra belum ada yang mendaftar menjadi calon di DPR daerah pemilihan setempat. Akhirnya Elnino mendaftar.

“Ketika musim kampanye,  saya sama sekali tidak membuat baligho. Stiker saja kecil, yang ditempel di telepon genggam. Itupun tanpa foto saya. Di situ tertulis ‘nilai luhur lebih dahsyat dari uang. Elnino, Gerindra 6 No 1’  (6 nomor partai, 1 nomor urut). Karena di surat suara DPR enggak ada fotonya. 6.1 satu saja yang dihapal,” ungkapnya.

Strategi kampanye yang demikian unik itu mampu mengantarnya melenggang ke Senayan. El Nino yang merupakan lulusan STT Telkom (sekarang Telkom University) Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Angkatan 1993 kemudian dipercaya menjadi anggota Komisi I. Komisi ini membidangi Telekomunikasi, Komunikasi-Informasi, Pers, Per-Sandi-an, Intelijen, Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan (TNI).

El Nino memang berbeda. Tidak hanya perjalanan karirnya yang unik, pendidikannya pun dijalani dengan penuh drama. Lulus SMA 81 Labschool Jaktim tahun 1993, dia mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan diterima di jurusan Matematika, ITB. Di saat yang sama, dia pun dinyatakan lolos seleksi di STT Telkom.

Keadaannya yang saat itu sudah yatim-piatu membuatnya galau karena bagaimanapun kondisi ekonomi membuatnya harus berpikir matang-matang agar bisa mengenyam pendidikan sekaligus melangsungkan hidup.

Akhirnya setelah berbincang panjang lebar dengan ayah angkatnya, Ir. Ary Mochtar Pedju, M.Arch, yang juga seorang dosen di ITB, dia pun memutuskan untuk memilih kuliah di STT Telkom. Dengan harapan El Nino menjadi orang yang mengerti sains dan teknologi, terutama teknologi informasi dan telekomunikasi.

“Nasihat ayah angkat saya waktu itu: ‘Nino, kamu percaya kan Tuhan selalu memberi jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh? Kamu sudah terbiasa berjuang sejak kecil, dan kamu tahu bagaimana Tuhan selalu menolongmu setiap kali kamu sungguh-sungguh.’ Nasihat pak Ary begitu meyakinkan saya untuk masuk ke STT Telkom,” tuturnya.

Hari-hari kuliah dia jalani dengan penuh kerja keras. Setelah SPP semester pertama dibantu penuh ayah angkatnya, dia pun mencoba kreatif, melakukan apa saja yang halal; ngamen atau narik becak untuk makan, jadi sales freelance produk sablon, tenaga surveyor, apa saja.

“Dan…ini penting…pertolongan Tuhan selalu saja datang dengan cara-Nya yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Dengan kerja keras itu akhirnya Saya lulus tahun 1998 dengan IPK 2,66 ketika Indonesia baru saja berganti presiden,” beber El Nino yang pernah menerima Piagam “Arkansas Ambassador” dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat 2007.

Pasca lulus dari kuliah S1, El Nino meniti karir menjadi seorang asisten salah satu komisaris sebuah bank. Hanya setahun berkiprah di dunia perbankan, ia pun akhirnya memutuskan kembali ke tanah kelahirannya untuk terjun ke dunia wartawan dan terlibat berbagai aktivitas perjuangan membentuk Gorontalo. Sampai akhirnya Gorontalo menjadi provinsi dan nasib membawa El Nino menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019.

Menurut dia, banyak hal yang dipelajari selama kuliah di STT Telkom/Telkom University yang aplikatif dalam tugas sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah flowchart digunakan dalam menetapkan tujuan serta urutan logis sejak memulai hingga mencapai tujuan sosial, network digunakan dalam mendesain keterikatan dan ketersambungan komunikasi sosial, dan tentunya ilmu manajemen teknologi.

“Bagi saya, teori dan praktik yang saya pelajari  di STT Telkom (Telkom University, red) tidak hanya dapat diterapkan secara teknologis, melainkan juga dapat dipakai dalam usaha mengatasi berbagai persoalan sosial, politik, kepemerintahan, ekonomi, dan masalah publik lainnya,” pungkasnya.

Terakhir dia berpesan sebagai alumni, supaya saling membantu dan saling berjajaring, dalam ikatan keluarga besar FAST, untuk memberikan value bagi sesama alumni, almamater, dan bangsa Indonesia.

 

#FAST4Indonesia
#AlumniStories

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?