Perubahan di era digital terjadi demikian cepat sehingga tantangan dan rintangan yang dihadapi dunia bisnis menjadi tidak mudah. Perlu kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan itu dan juga kelihaian dalam menangkap setiap peluang yang ada.

Ferdian, pemilik bisnis Brillium Group, menyadari hal itu. Bidang yang digelutinya selama lebih dari sepuluh tahun yakni bisnis percetakan sedang mengalami perubahan akibat era digital. Runtuhnya beberapa perusahaan koran dan majalah menjadi salah satu contoh nyata betapa bisnis percetakan sedang dirundung masalah cukup serius.

Di satu sisi, baginya, koran dan majalah yang gulung tikar menjadi kehilangan peluang meraup keuntungan. Tetapi setelah dipelajari lebih dalam lagi, percetakan koran dan majalah hanya satu bagian dari banyaknya pekerjaan percetakan. Ada penurunan omzet, iya, tapi itu hanya satu bidang saja, sedangkan di bagian lainnya tidak.

Supaya tetap tumbuh, maka menurutnya, harus mengeksplorasi bagian lain. Contohnya sekarang sedang banyak wirausaha baru yang memerlukan packaging percetakan. Maka hal itu yang dia kembangkan karena sedang sangat dibutuhkan. Ferdian menunjukkan kemampuannya yang adaptif terhadap market dan lihai dalam menangkap peluang.

“Saya terus mencoba lebih dalam, mengeksplor apa yang bisa dikembangkan ternyata selain marketnya ada, cukup oke, dan saya serius menjalankan bisnis percetakan ini. Sekarang saya fokus melebarkan potensi yang mungkin ada. Karena mencetak itu bukan hanya di kertas tapi bisa plastik dan security printing,” ungkapnya saat ditemui di Kampus Telkom University, Rabu (23/8/2017).

Menurut pria kelahiran Jakarta 31 tahun lalu itu, pada digital era seperti sekarang itu perlu efidence, cuma teknologinya saja diganti. Misalnya dari printing biasa menjadi security printing. “Intinya apa yang bisa diberikan lebih dari sekedar nyetak itu, bagaimana menambah value pada produk yang kita hasilkan untuk klien,” timpalnya.

Ayah dua orang anak yang kini menetap di Bandung itu meyakini, meskipun sudah banyak negara yang mengkampanyekan paperless, bisnis percetakan belum akan mati. Pasalnya, sampai sekarang negara-negara pengembang mesin cetak masih menciptakan dan meneliti pengembangan mesin cetak. Bahkan negara yang mempopulerkan paperless, mereka masih bicara soal bagaimana menciptakan mesin yang baik dan efektif.

“Jika melihat gap perkembangan di luar negeri ke Indonesia itu ada sekitar tiga sampai lima tahun. Artinya kalau Eropa sudah full paperless kita masih punya waktu tiga sampai lima tahun sebelum akhirnya negara kita pun full paperless,” sebut alumnus Telkom University jurusan informatika tersebut.

Dalam menjalankan bisnis percetakannya, Ferdian seringkali menyasar corporate, bukan main di retail. Salah satu contohnya, ada perusahaan Singapura yang memesan pembuatan brosur lewat agency di Indonesia.

“Selebihnya kami banyak mengerjakan pemesanan percetakan dari dalam negeri,” tutur Ferdian yang kini menjadi Direktor Pestawirausaha Komunitas TDA  (Tangan Di Atas).

Kemampuan berbisnisnya tidak diperoleh begitu saja. Semasa SMP dan SMA, Ferdian sudah belajar berjualan buku. Saat masuk kuliah di Telkom tahun 2003, dia pun belajar mengelola uang orang untuk ditaruh di bisnis riil hingga akhirnya mulai membuka bisnis sendiri yaitu printing yang jadi cikal bakal bisnis percetakannya sekarang.

Selain kuliah dan belajar bisnis, Ferdian terbilang mahasiswa yang sangat aktif. Di samping aktivitas di dalam kelas, dia pun menyibukkan diri di laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) dan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Karir berorganisasi di BEM selama tiga tahun mengantarnya pada posisi puncak saat menjadi presiden BEM pada tahun 2006-2007.

Ferdian memang keranjingan berorganisasi karena merasakan betapa banyak manfaat yang didapat terutama soal belajar kolaborasi dengan banyak stake holder di dalam atau di luar kampus. Bahkan dia sempat menjadi asisten profesor di University of Malaya, Malaysia selama satu tahun setelah lulus kuliah, itu karena kenalan di organisasi.

“Saya juga belajar membangun networking, dan kecakapan berkomunikasi sangat menunjang karir saya selama ini. Saya juga belajar untuk adaptif terhadap perubahan, terhadap lingkungan dan heterogenitas banyak orang sehingga bisa bergaul dengan siapapun, baik dengan orang yang secara strata sosial dibilang middle up maupun kelas di bawahnya” paparnya.

Sebelum benar-benar terjun dan fokus di bisnis, sebenarnya Ferdian pernah mengajar selama satu tahun di University of Malaya, Malaysia dan di PetroChina Tanjung Jabung Timur, Jambi. Barulah pada tahun 2008 dia mulai serius menggeluti bisnis printing sampai sekarang.

“Dari tahun 2008 itu saya jatuh bangun merintis bisnis sampai terakhir pada tahun 2013. Sejak itu sampai sekarang saya sedang terus berupaya menumbuhkan bisnis percetakan saya,” kata dia.

Meskipun pencapaiannya bisa dibilang cukup luar biasa, tapi Ferdian enggan jumawa dan merasa puas. Menurutnya, kesuksesan bukan sekedar materi tapi bagaimana apa yang sudah dimiliki bisa memberikan dampak bagi yang lain. Karena itu pula dia bergabung di Komunitas Wirausaha, TDA yang memiliki perwakilan di 61 kota di Indonesia.

“Saya berupaya mensyukuri apa yang sudah dimiliki dan punya kewajiban untuk terus semangat berinovasi. Dimana kita semakin sukses, bisa memberikan manfaat lebih besar lagi bagi orang lain,” tambahnya.

Dia pun berpesan kepada para alumni Telkom University untuk membagikan kesuksesan versi masing-masing kepada orang lain. Misalnya ada yang sukses dengan materinya, support kegiatan dengan materinya, ada yang sukses dengan ilmunya, support dengan ilmu karena ada banyak kegiatan mengajar, ada yang sukses di bidang waktu manfaatkan free time itu untuk kegiatan sosial.

“Intinya, apapun kelebihan dan peran masing-masing, yang terpenting bisa bermanfaat bagi orang lain,” tutupnya.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?