Harland Firman Agus
Mimpi Besar Mendisrupsi Bisnis FnB

Perjalanan di tahun 2008 akan selalu lekat dalam ingatan Harland Firman Agus. Masuk IT Telkom (sekarang Telkom University) bukan pilihan utama baginya. Di awal-awal perkuliahan, Harland bukan termasuk mahasiswa yang rajin. Penyebabnya jelas, Teknik Informatika yang diambil bukanlah bidang yang disukainya.

Alhasil, IP di dua semester awalnya jeblok dan hal itu membuat dia dipanggil psikolog. Ada dua pilihan yang ditawarkan ketika itu, pindah jurusan atau lulus lebih cepat. Kedua pilihan memiliki risiko dan konsekuensi masing-masing.

Dengan berbagai pertimbangan, Harland akhirnya opsi kedua dan berhasil lulus hanya 3,5 tahun dan IP semester terakhir 4. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol mengingat dia termasuk mahasiswa aktif berorganisasi dengan kumulatif transkrip non akademik mencapai 300 poin.

Pria asal Riau yang kini menetap di Bandung itu menuturkan, kehidupan tidak mudah dijalani meski lebih dulu lulus dibandingkan rekan-rekan seangkatan. Dia harus berjuang keras meniti jalan bisnis sejak keluar kampus akhir tahun 2011.

Berkat fondasi kegigihan yang sudah dibangun sejak kuliah, berbagai inovasi dia buat sebagai alternatif solusi bagi kehidupan. Satu demi satu inovasi IT yang dia buat mengantarnya pada apresiasi dari sejumlah institusi.

Sejauh ini sudah lebih dari 10 penghargaan bergengsi dari mulai juara anugerah inovasi IT dari Gubernur Jawa Barat, juara ICT award dari Kemenkominfo hingga prestasi yang cukup membuat booming ketika jadi Juara Wirausaha Muda Mandiri. Yang terbaru, dua bulan lalu dia meraih Australian Award.

Pada satu kesempatan, Harland pernah diundang ke Silicon Valley karena membuat sosial media yang menghubungkan pasien dengan dokter yaitu Aorta Life. Dari pengalamannya selama di negeri Paman Sam, tekad berwirausahanya semakin kuat.

“Silicon Valley 50 tahun lalu hampir sama dengan Bandung, pegunungan dan lembah yang notabene kuat di sektor pertanian. Tapi sekarang, berbagai aplikasi nomor wahid lahir dari sana,” ungkapnya ketika ditemui di kantor Eresto, Jalan Jakarta, Kota Bandung, belum lama ini.

Dari sekian inovasi IT yang sudah dibuat, akhirnya dia memilih Eresto untuk menjadi fokus bisnisnya. Eresto merupakan SAS (Software As Service), yakni aplikasi manajemen restoran. Membantu pebisnis restoran jadi lebih profesional dengan bantuan teknologi seperti waiter take order menggunakan smartphone, cashier pakai i-pad, di dapurnya pakai display, paperless, struk atau billnya via email.

“Dengan begitu, manajer tinggal melihat bagaimana jalannya bisnis cukup menggunakan smartphone meski tidak sedang berada di tempat. Sekarang sedang booming karena tepat guna dan hardwarenya mendukung, hape bisa lebih murah,” tutur pria 27 tahun itu.

Berdasarkan statistik, kata dia, mindset anak-anak muda di Indonesia mulai berubah. Mereka mulai ingin jadi pengusaha dan mayoritas hampir 50% memilih bisnis kuliner, sisanya fashion, IT, dan lainnya.

Atas dasar itu pula Harland ingin fokus di bisnis aplikasi restoran karena cukup banyak yang bisa dikembangkan. Ketika bisa merevolusi di sektor ini, tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

“(Bisnis restoran, red) gak akan mati. Selagi orang butuh makan, bagaimanapun bentuk restorannya ke depan nanti, inovasi di bidang ini akan terus tumbuh,” katanya.

Benar saja, aplikasi Eresto mendapatkan respon luar biasa. Sejauh ini sudah ada 100 outlet restoran yang menggunakannya. Masing-masing brand menginstal aplikasi inovatif ini untuk lebih dari satu cabang.

“Kami sudah menginstal di Makassar, Pontianak, Kebumen, Purwokerto, Surabaya, Jambi. Beberapa ada di Singapura,” sebut dia.

Menurutnya, Eresto bisa membantu efisiensi bisnis restoran hingga 15-20%. Pasalnya, bisnis restoran itu banyak kecolongan, misalnya dicuri karyawan sendiri karena lost di pencatatan atau bagaiamana. Dengan memnggunakan sistem, bisa lebih hemat dan mudah memantaunya.

“Dengan Eresto harapannya bisa men-disrupt di dunia FnB (food and beverage). Gak Cuma software ERP (Enterprise Resource Planning), lebih dari itu ada end to end yang cukup panjang,” sambung Harland yang ketika kuliah aktif di BEM, Mapala, dan beragam ekstrakulikuler.

Dia menjelaskan, terbuka peluang yang bisa diambil dalam bisnis restoran di antaranya penyediaan SDM. Untuk itu, Harland bekerja sama dengan Indonesian Chef Association (ICA) dan asosiasi lain tengah membangun Eresto Job untuk orang-orang yang ingin berkarir di restoran. Sebulan atau dua bulan ke depan akan dilaunching.

“Jadi bagi siapa saja yang mencari pekerjaan sebagai kasir, barista, chef, atau lainnya nanti kami hubungkan dengan yang membutuhkan. Intinya kami ingin jadi total solution di FnB bisnis,” tambahnya.

Tujuan lebih besar, lanjut dia, sebenarnya adalah ingin menghabisi tengkulak. Karena dia geram melihat harga garam mahal, cabai seharga daging, yang itu semua diduga dimainkan oleh mafia yang ada.

“Harapannya jadi perusahaan Indonesia yang berjaya di negeri sendiri. Mau gak mau, Indonesia bisa survive di industri kreatif,” ujarnya.

Harland pun berharap ke depan terjadi sinergi kolaborasi antara petani, pengusaha, IT, dan pemerintah. Karena yang diperkirakan akan maju adalah sektor agribisnis dengan bantuan teknologi.

“Maka dari itu saya memulai di bisnis restorannya. Nanti baru maju ke sekitarannya. Misal menghubungkan antara petani dan pengusaha restoran. Kalau restoran butuh produk pertanian seperti beras, tomat, cabai, tinggal pesan. Kami ambilkan barang itu langsung dari petani,” bebernya.

Untuk mewujudkannya, dia mengaku tidak bisa sendirian, harus ada dukungan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali dari para alumni Telkom University. Harus saling bersinergi, berkolaborasi.

“Masih belum terdengar banyak entrepreneur yang berasal dari kampus teknologi. Sekarang saatnya. Yakini bahwa rejeki sudah ada yang ngatur. Jangan takut berusaha, jadilah entrepreneur. Kalau tidak bisa, support sebagai karyawan. Kalau gak bisa ya bantu jangan malah dihina. Saling mendukung. Bergandengan tangan. Kalau gak bisa juga, minimal gak usah menjelekkan,” tutup Harland yang kini punya 20 orang karyawan.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?