Ketika Kita Hidup dalam Bayang-bayang Terminator

Jakarta – Kita tentu sudah sangat familiar dengan tokoh rekaan artificial intelligence seperti robot di film Terminator, atau Jarvis dan Ultron dalam serial Iron Man maupun Avengers. Mesin cerdas atau kecerdasan buatan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas.

Tidak terhitung jumlah buku, komik atau film science fiction yang menampilkan mesin cerdas sebagai tokoh sentralnya, baik itu dalam bentuk perangkat lunak komputer ataupun dalam bentuk robot seperti di film Terminator.

Semakin ke sini, seiring dengan makin meningkatnya kemampuan teknologi komputasi, mesin-mesin cerdas yang mampu bertindak secara autonomus makin memperlihatkan bentuknya.

Dalam bentuk software kita tentu kenal Deep Blue yang mengalahkan Super Grandmaster catur Gary Kasparov, IBM Watson yang mengalahkan Juara quiz Jeopardy dengan kemampuan Natural Language Processing nya, lalu di awal tahun ini muncul AlphaGo dari Google Deepmind yang sukses mengalahkan juara Go, permainan strategi kuno yang jauh lebih kompleks dari catur.

Di sisi lain, dalam bentuk hardware kita mulai terbiasa dengan berita tentang ‘driverless car’ baik dari Google, Mercedes, Audi atau Volvo. Yang agak ‘menakutkan’ tentu saja penampilan robot-robot dari Boston Dynamics yang bisa berlari seperti binatan berkaki empat ataupun yang bisa berjalan diatas dua kaki seperti manusia.

Yang terakhir ini malah memiliki kemampuan untuk kembali berdiri sesudah dijatuhkan, membuat bayang-bayang akan kehadiran Terminator menjadi semakin dekat.

Dalam dunia kecerdasan buatan sendiri, peran mesin-mesin yang semakin cerdas dalam kehidupan manusia ini masih mengalami perdebatan baik secara etika maupun juga dalam beberapa hal secara hukum, sebelum benar-benar bisa digunakan secara umum.

Isu utama yang diperdebatkan adalah: Apakah mesin cerdas akan berfungsi sebagai ‘pengganti’ manusia atau hanya akan digunakan sebagai ‘augmentasi’ atau perluasan kemampuan intelektual manusia?

Tapi sebelum benar-benar bisa menjawab pertanyaan di atas tentu kita terlebih dahulu harus bisa mengukur, kira-kira mesin-mesin cerdas itu bisa sepintar apa.

Dalam artikelnya di MIT Sloan Management Review, Thomas Davenport dan Julia Kirby, mengusulkan sejumlah indikator kecerdasan sebuah mesin, yang terbagi dalam empat tingkatan.

1. Pendukung pengambilan keputusan

Tingkatan ini adalah tingkatan paling dasar dari mesin cerdas yang sudah ada sejak beberapa dekade lalu. Sejak dulu, dengan kemampuan komputasi dan pengolahan data yang cepat, mesin telah membantu manusia dalam mengambil keputusan dengan menganalisa data dan memberikan sejumlah pilihan atau rekomendasi keputusan yang optimal.

2. Melakukan kegiatan yang berulang secara otomatis

Tingkatan ini juga sudah akrab dengan kehidupan kita. Dalam dunia manufaktur/fabrikasi, kehadiran robot-robot yang melakukan pekerjaan tertentu yang memerlukan tingkat presisi tinggi, sangat membantu peningkatan produksi. Karena tidak seperti manusia yang butuh makan, minum dan istirahat, robot pabrik bisa bekerja tanpa henti, tentu saja selama pasokan listrik masih memadai.

3. Kemampuan belajar dan pemahaman konteks

Kalau dua kemampuan terdahulu sudah dicapai oleh mesin cerdas sejak beberapa puluh tahun lalu, kemampuan belajar dan pemahaman konteks ini baru dimulai setidaknya 10-15 tahun lalu, ketika IBM menginisiasi project Deep Blue untuk bermain catur dalam skala grandmaster, yang semakin disempurnakan dalam diri IBM Watson yang sudah memiliki kemampuan memahami konteks bahasa.

4. Kesadaran diri

Tingkat keempat ini merupakan tingkatan tertinggi, di mana mesin/robot sudah memiliki kesadaran diri, dan mampu melakukan tindakan-tindakan tanpa intervensi manusia. Hingga saat ini, robot yang memiliki kesadaran diri masih eksis hanya di dunia fiksi ilmiah.

Namun dengan munculnya robot-robot berkaki empat dan berkaki dua dari Boston Dynamics yang menghebohkan ini, para praktisi memperkirakan dalam waktu 30-40 tahun ke depan, sudah akan ada robot yang memiliki kecerdasan di tingkatan ini.

Menyaksikan kecanggihan dan kecerdasan sebuah robot di dalam komik atau film fiksi ilmiah memang menarik, namun untuk menerima kehadiran mereka berdampingan dalam hidup kita sebagai manusia tentu butuh pertimbangan lain.

Apalagi untuk menyerahkan pengambilan-pengambilan keputusan penting kepada makhluk cerdas yang tidak memiliki perasaan perlu dipertimbangkan masak-masak. Tentu kita tidak berharap kemanusiaan akan kalah terhadap mesin seperti di film Terminator atau trilogy The Matrix.

Namun demikian, kehadiran mesin-mesin yang semakin hari semakin cerdas adalah sebuah keniscayaan, sehingga mau tidak mau kita, manusia, harus mempersiapkan diri untuk memasuki sebuah era mesin cerdas/robot berseliweran di sekitar kita.

source : http://inet.detik.com/read/2016/04/19/075842/3191070/398/ketika-kita-hidup-dalam-bayang-bayang-terminator

*) Mochamad James Falahuddin, Teknik Informatika 92

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?