Menyambut Era Sistem Transportasi Cerdas di Indonesia

Jakarta – Beberapa hari terakhir, polemik soal pembatasan 3 in 1 di Jakarta bahas diramai di media sosial maupun media arus utama di Indonesia –termasuk di detik.com.

Jika boleh jujur, kita sebetulnya tengah kembali riuh berdiskusi tentang hal yang solusinya sudah lengkap disediakan oleh teknologi informasi komunikasi (TIK).

TIK, melalui konsep smart city, yang akhir-akhir ini demikian familiar, bukan hanya ide populis bagi para pemangku kepentingan di ranah kebijakan publik. Tapi juga bagi raksasa teknologi, operator telekomunikasi, startup, yang berlomba menawarkan solusi bagi problem laten perkotaan.

Izinkan penulis sebagai bagian elemen masyarakat TIK yakni Kandidat Ketua Forum Alumni Universitas Telkom (FAST) berbagi pemikiran terkait hal tersebut. Salah satu solusi TIK bagi kemacetan kota adalah rencana penerapan jalan berbayar elektronik (Electronic Road Pricing / ERP).

Sistem ini merupakan salah satu alternatif utama untuk mengurai kemacetan, terutama di jalan protokol Jakarta. Penerapan ERP dimaksudkan mengubah perilaku berkendara warga, dari penggunaan kendaraan pribadi beralih ke transportasi publik.

Kendaraan pribadi saat ini masih menjadi pilihan utama di tengah masih kurang optimalnya pelayanan transportasi publik. Hal inilah yang menyebabkan kemacetan di jalan protokol Jakarta tidak terelakan tiap harinya.

Faktor ego, kurangnya kesadaran, dan kedisiplinan tak jarang menambah rumit kemacetan Jakarta. Pilihan 3 in 1 pada akhirnya masih dirasakan kurang maksimal, bahkan memunculkan masalah sosial baru dengan adanya para joki serta pungutan liar dari beberapa oknum petugas.

Penerapan ERP lebih ditekankan pada perubahan perilaku pengguna kendaraan pribadi dengan prinsippurpose driven road usage, atau penggunaan jalan berdasarkan tingkat kebutuhan/kepentingan.

ERP memungkinkan kontrol atas penggunaan kapasitas jalan sehingga tetap optimal. Tarif ERP dapat disesuaikan kondisi rata-rata kecepatan dan kepadatan jalan. Menurut salah satu riset, penurunan kemacetan sebesar 25% dapat meningkatkan mobilitas hingga 100%.

Hal ini juga sangat berdampak cukup signifikan pada penurunan tingkat emisi dan konsumsi bahan bakar. Teknologi Road User Charging seperti ini juga dapat menjadi alternatif utama modernisasi sistem pembayaran jalan tol menuju ke arah MultiLane Free Flow Electronic Tolling System.

Ini system yang memungkinkan percepatan transaksi, mengurangi kemacetan di pintu-pintu tol sebagai imbas kemudahan cek saldo, proses top-up multibank, integrasi dengan mobile phone/mobile application, serta harga device yang jauh lebih terjangkau.

Kota-kota yang telah menerapkan ERP juga telah membuktikan dan merasakan manfaatnya melalui program Ear Marking atau penggunaan hasil retribusi ERP.

Hasil retribusi ini dikembalikan lagi untuk pengembangan sarana dan prasarana transportasi seperti halnya subsidi pembangunan transportasi publik, perbaikan trotoar, penghijauan sekitar jalan protokol, penanggulangan emisi, penambahan jalur sepeda, pembelian bis-bis baru, dst.

Pola investasi melalui Public-Private Partnership juga mengurangi beban anggaran pemerintah, yang mana ada keterlibatan investor yang tentunya mengedepankan prinsip-prinsip good governance dan profesionalisme.

Di sisi lain, salah satu prasyarat lain penerapan sistem transportasi cerdas adalah tersedianya data registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor yang valid.

Saat ini kepolisian tengah menyiapkan penerapan Electronic Registration & Identification (ERI) dan juga Electronic Law Enforcement (ELE) sebagai wujud adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Informasi-informasi mengenai kendaraan seperti hal-nya data pemilik, STNK, atau KIR nantinya akan diubah ke bentuk elektronik.

Penerapan ERI/ELE ini sudah terbukti berhasil di beberapa negara maju, dan menekan tingkat kecelakaan dan kejahatan transportasi. Rencana ini patut kita apresiasi dalam rangka transformasi dunia transportasi di Indonesia ke arah yang lebih baik.

Era economic sharing dan disruptive model di bidang transportasi saat ini juga menjadi momentum yang tepat untuk perbaikan. Konvergensi teknologi informasi, telekomunikasi, transportasi, dan creative business model, mendorong perbaikan kualitas layanan dan kompetisi.

Masyarakat yang semakin cerdas dan kritis juga sekarang dapat memilah dan memilih layanan mana yang terbaik. Hal ini juga membuat para pengambil kebijakan harus meninjau kembali masterplan dan regulasi untuk lebih adaptif terhadap perubahan jaman, tanpa melupakan kepentingan masyarakat.

Model-model aplikasi Smart Transportation seperti hal-nya Smart Parking, Ride Sharing, Journey Time Monitoring, Infomobility, Speed & Weight Detection, dan lain-lain, terus bermunculan dengan segala kreativitas dan inovasinya. Aplikasi-aplikasi ini hadir dari kebutuhan masyarakat secara nyata, yang didukung ketersediaan teknologi, dan model bisnis kreatif, yang mayoritas digagas orang-orang muda para agen perubahan.

Kita sedang berada di momentum yang tepat untuk mengawal transformasi dan pembangunan kota secara berkelanjutan (sustainable development). Penerapan smart city dalam arti yang sesungguhnya, yang tidak hanya menonjolkan kecanggihan teknologi, tetapi secara nyata mengubah pola hidup masyarakat kota ke arah yang lebih baik. Kita tengah mewariskan tatanan baru untuk generasi muda kita, untuk Indonesia yang lebih maju. Semoga!

Source : http://inet.detik.com/read/2016/04/08/141516/3183119/398/menyambut-era-sistem-transportasi-cerdas-di-indonesia?i991101105

*)  Ahmad Nugraha Rachmat, Teknik Informatika 99

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?