PERJALANAN membangun Republik Indonesia sesungguhnya tidak terlepas dari keberadaan organisasi-organisasi bentukan para tokoh pendiri bangsa. Mereka berserakan di berbagai tempat di Nusantara dalam bentuk pergerakan dengan ekspresi yang berbeda. Ibarat keping-keping fragmen, banyak peristiwa penting terjadi yang melibatkan organisasi-organisasi itu. Semua itu bermuara pada satu mimpi yang sama: memerdekakan Indonesia. Sampai pada akhirnya Proklamasi menjadi penanda republik ini terlepas dari belenggu penjajahan.

Dalam konteks kampus (berupa perguruan tinggi, universitas, institut, sekolah tinggi atau semacamnya) posisi organisasi kemahasiswaan pun demikian: memiliki urgensi bagi perjalanan sejarah kampus itu sendiri. Apalagi banyak orang bilang kampus merupakan miniatur sebuah negara. Maka tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa tidak akan ada eksistensi sebuah kampus tanpa organisasi kemahasiswaan. Keberadaannya adalah penanda bagi lika-liku perjalanan kampus. Aktivitasnya adalah wadah bagi peningkatan kapasitas diri para mahasiswa.

Masa-masa kuliah sangat disayangkan kalau hanya habis untuk mereguk ilmu pengetahuan di ruang kelas. Sebagai penyeimbang, organisasi kemahasiswaan menawarkan alternatif aktivitas lain yang sama sekali berbeda. Tentu sesuai minat dan bakat masing-masing. Pecinta alam adalah satu dari sekian organisasi yang biasanya menjadi pilihan utama mahasiswa untuk beraktivitas di luar kuliah: mendaki gunung tinggi, menyusuri belantara hutan, memanjat tebing-tebing terjal, menapaki jalan menaklukkan alam liar. Semua aktivitas itu semata-mata dilakukan untuk membentuk pola pikir dan pola perilaku mahasiswa berkarakter melalui persahabatan dengan alam.

Pun dengan Astacala yang hadir di awal-awal tahun berdirinya STT Telkom, cikal bakal Telkom University. Organisasi yang dirintis para mahasiswa angkatan pertama ini memiliki peranan penting bagi pembentukan karakter pada diri mahasiswa. Kemunculannya memberikan warna lain dalam kehidupan kampus. Lebih jauhnya menggaungkan eksistensi kampus di tengah mulai bertumbuhnya perguruan tinggi di Indonesia saat itu.

Perjalanan panjang 25 tahun bukanlah perkara mudah. Ada banyak rintangan dan tantangan menghadang yang menguji kekokohan organisasi. Seiring perkembangan zaman, tidak sedikit organisasi kemahasiswaan berguguran karena tak mampu melawan derasnya arus perjuangan. Namun Astacala masih tetap eksis hingga lebih dari dua dekade.

Dari mulai merintis hingga eksistensinya sejauh ini pasti ada banyak cerita epik nan menarik yang sayang kalau hanya disimpan rapat-rapat dalam kenangan. Alangkah baiknya cerita-cerita dalam upaya agar roda organisasi tetap berputar disampaikan dalam bentuk tulisan. Bisa jadi pada saat sebuah peristiwa itu terjadi bukan merupakan cerita epik bagi para pelakunya, tetapi tidak menutup kemungkinan di saat yang sama menjadi inspirasi bagi para generasi penerus. Atau ada pengalaman memecahkan suatu masalah yang bisa dijadikan bank solusi agar orang lain tidak mengalami masalah yang sama. Bukankah wujud dari sedekah itu tidak harus memberi uang? Karena memberi inspirasi juga wujud lain dari sedekah itu.

Oleh karena itu, ketika mengetahui rencana penerbitan buku Meniti Langkah 25 Tahun Astacala ini saya tidak perlu berpikir panjang. Saya sangat menyambut baik karena buku semacam ini akan sangat bermanfaat bagi banyak orang. Bagi para anggota Astacala dari masa ke masa akan menjadi penguat daya ingat betapa mereka pernah melalui masa-masa indah di kampus. Sehingga mereka bisa bercerita dengan penuh kebanggaan kepada anak cucu bahwa mereka tidak hanya belajar di ruang kelas ketika kuliah, melainkan belajar dari alam tentang kehidupan. Bagi pihak kampus, buku ini merupakan pelengkap sejarah panjang perjalanan membangun kampus, dari sudut pandang aktivitas mahasiswa. Pun bagi pihak lain, kumpulan cerita dalam buku ini memberi perspektif lain dalam menjalani masa-masa studi di kampus.

Tidak terkecuali bagi alumni Telkom University secara umum, buku ini bisa menjadi semacam nostalgia saat menempuh kuliah di kampus putih biru. Karena tidak menutup kemungkinan cerita-cerita yang tersaji dalam buku ini terdapat serpihan-serpihan kecil yang secara langsung atau tidak langsung membawa memori kita masa-masa saat jadi mahasiswa.

Saya berharap penulisan jejak sejarah semacam ini tidak berhenti di Astacala, melainkan alumni organisasi kemahasiswaan lain pun bisa melakukan hal yang sama. Karena sangat banyak fragmen dalam perjalanan kampus kita tercinta yang bisa dijadikan inspirasi melalui sebuah tulisan.

Terakhir, bacalah satu demi satu cerita yang tersaji dalam buku ini. Reguk inspirasi yang ada di dalamnya. Temukan karakter dan pengalaman berbeda dari mereka yang bersahabat dengan alam.

Salam Astacalam. Salam FAST 😊

Selamat membaca.

Dirgahayu Astacala!

Notes : Sambutan Presiden FAST untuk Buku Meniti Langkah 25 Tahun Astacala

Pembina & Dewan Kehormatan Astacala, Bapak Mahmud Imrona, Koordinator
Penerbitan Buku Meniti Langkah 25 Tahun Astacala, I Komang Gde Subagia, &
Presiden FAST Ahmad Nugraha Rachmat
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2017 Forum Alumni Universitas Telkom

Log in with your credentials

Forgot your details?