Menanti Regulasi : Broadband Wireless Access di Indonesia

Isu pengembangan teknologi pita lebar berbasis nirkabel atau yang lebih dikenal dengan Broadband Wireless Access / BWA di Indonesia menjadi isu yang menarik untuk diikuti. Implementasi teknologi dan layanan pita lebar dianggap bisa memberi efek yang sangat besar dalam masyarakat di segala aspek kehidupan. Namun kendala yang dihadapi saat ini adalah belum keluarnya regulasi atau kebijakan pemerintah yang mengatur penggunaan teknologi ini.

Berbicara masalah regulasi atau kebijakan pemerintah, yang menarik adalah konteks kata “regulasi” ternyata berbeda antara Indonesia dan luar negeri. Di Indonesia, regulasi ini lebih bermakna pembatasan (tidak boleh ini dan itu, yang boleh hanya ini/perusahaan ini). Sedangkan di luar negeri, regulasi lebih ke arah mewajibkan penyedia jasa untuk memberikan ataupun menyediakan suatu layanan kepada masyarakat sehingga tentunya regulasi lebih berpihak kepada masyarakat. Namun dalam konteks apapun, masyarakat akan tetap menerima pembatasan ini jika dilakukan untuk kebaikan masyarakat itu sendiri.

Terkait dengan pengembangan teknologi pita lebar ini, akhir tahun 2006 lalu pemerintah melalui Dirjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informasi telah menerbitkan White Paper “Penataan Spektrum Frekuensi Radio Layanan Akses Pita Lebar Berbasis Nirkabel (BROADBAND WIRELESS ACCESS/BWA)” yang merupakan konsep regulasi / kebijakan pemerintah dalam penataan spektrum frekuensi radio layanan akses pita lebar berbasis nirkabel (Broadband Wireless Access/BWA). Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah masukan pada konsultasi publik Penataan Frekuensi Broadband Wireless Access yang diadakan pada bulan April 2006, maupun sejumlah masukan dari berbagai pihak, serta referensi-referensi pada beberapa forum internasional seperti APT (Asia Pacific Telecommunity) Wireless Forum, ITU Study Group, dan sebagainya.

Mengutip white paper ini, tujuan dari kebijakan pemerintah dalam penataan spektrum frekuensi radio layanan akses pita lebar berbasis nirkabel ini antara lain adalah :

  • Menata penggunaan spektrum frekuensi radio menjadi lebih efisien dan optimal.
  • Menambah alternatif dalam upaya mengejar ketertinggalan teledensitas ICT dan penyebaran layanan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
  • Mendorong ketersediaan tarif akses internet yang terjangkau (murah) di Indonesia.
  • Mendorong tumbuhnya peluang usaha bagi masyarakat dan potensi lapangan kerja diberbagai unit usaha (multiple effect).
  • Membuka peluang bangkitnya industri manufaktur, aplikasi dan konten dalam negeri.
  • Menciptakan kompetisi pelayanan telekomunikasi yang dapat mendorong penyelenggaraan telekomunikasi secara lebih efisien.

Sekilas jika kita menyimak tujuan White Paper tersebut terbesit harapan yang tinggi akan bisa terwujud dan tercapainya tujuan dari kebijakan pemerintah ini. Namun hingga saya menulis kolom ini, belum ada perkembangan yang berarti kapan konsep kebijakan ini benar – benar menjadi kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah ini sangatlah ditunggu-tunggu karena akan memberikan kepastian kepada pelaku bisnis baik itu vendor dan operator dan pada akhirnya masyarakat luas.

Jaringan nirkabel memang lebih murah dan fleksibel ketimbang jaringan kabel dan fiber optic. Dahulu untuk mencapai pelanggan (last mile) masih mahal, sekarang sudah jauh lebih murah. Biaya per telepon yang tadinya adalah sekitar US$1000/satuan sambungan telepon sekarang sudah mencapai dibawah US$ 10. Caranya adalah dengan menggunakan teknologi wireless. Saat ini, beberapa jenis teknologi untuk layanan wireless sudah tersedia, salah satunya adalah WiMAX (Worldwide Interoperabilty for Microwave Access) yang merupakan teknologi open standard dan tentunya juga tersedia yang proprietary.

Berbicara tentang WiMAX, belum keluarnya regulasi pemerintah untuk BWA dan terlebih dengan ditundanya tender spektrum frekuensi 2.3GHz yang oleh kebanyakan orang dipersepsikan sebagai tender lisensi WiMAX, bagi sebagian orang ada kesan penundaan ini dikaitkan dengan upaya pemerintah untuk melindungi operator 3G. Alasan belum tersedianya perangkat di frekuensi di 2.3GHz bukanlah merupakan alasan yang kuat. Karena jika kita membaca White Paper, teknologi yang digunakan bebas dan tidak memihak, secara umum yang diatur hanyalah masalah tipe modulasi dan lebar pita yang digunakan. Sebagaimana yang kita ketahui, saat ini telah tersedia perangkat BWA di frekuensi 2.3 baik itu WiMAX ataupun yang proprietary. WiMAX sebagai representasi dari 4G dianggap akan mengancam keberadaan 3G. Bayangkan, operator seluler baru saja membayar lisensi yang sangat mahal (ratusan milyar rupiah), ternyata belum apa-apa sudah mendapat tantangan dan ancaman dari WiMAX.

Jika mau jujur secara teknologi 3G masih lebih matang dari WiMAX. Paling tidak 3G akan masih lebih unggul sampai dengan tahun 2009. Hanya sampai tahun 2009? Ya! Padahal operator 3G belum mendapatkan penghasilan apa-apa dari layanannya. Berarti para operator ini hanya punya waktu sekitar 2 tahun saja? Ya!. Bahkan salah satu operator selular dengan tegas menyatakan tidak akan mengambil untung dari investasi 3G. Investasi 3G dilakukan hanya sebagai usaha menjaga image perusahaan. Jika demikian adanya, alasan apalagi yang menjadi dasar ditundanya tender ini? Apakah ini terkait dengan usaha dan upaya memberikan waktu kepada industri manufaktur telekomunikasi dalam negeri yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru? Berapa lamakah industri dalam negeri kita siap? Yang perlu kita sadari, industri telekomunikasi dan informasi adalah industri padat teknologi dan bukanlah industri padat karya. Jadi seberapa besarkah lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan?. Menurut hemat penulis, industri telekomunikasi dan informasi adalah katalis tumbuhnya industri yang lain. Jadi tersedianya infrastruktur telekomunikasi dan informasi yang maju dan murah akan memicu tumbuhnya perekonomian (multi effect).

Dipublikasikan di KOLOM SELULAR, Maret 2007 hal : 98 (http://wahyu.haryadi.or.id)

R Wahyu Haryadi

R Wahyu Haryadi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait